KajianPustaka

Widget html #1, model pembelajaran creative problem solving (cps).

Model pembelajaran Creative Problem Solving (CPS) adalah suatu metode pembelajaran yang pemusatannya tertuju pada keterampilan pemecahan masalah melalui teknik sistematik dalam mengorganisasian gagasan-gagasan kreatif. Siswa tidak hanya diajarkan cara menghafal tanpa berpikir, namun dituntut untuk memilih dan mengembangkan suatu tanggapan untuk memperluas proses berpikir.

Model Pembelajaran Creative Problem Solving

Creative problem solving merupakan teknik pembelajaran dalam penyelesaian suatu permasalahan berkaitan dengan pemecahan masalah yang melalui teknik sistematik dan mengorganisasikan gagasan kreatif. Melalui model pembelajaran creative problem solving, siswa dapat memilih dan mengembangkan ide dan pemikirannya. Munculnya solusi kreatif sebagai upaya pemecahan masalah akan menumbuhkan kepercayaan diri, keberanian menyampaikan pendapat, berpikir devergen, dan fleksibel dalam upaya pemecahan masalah.

Creative problem solving dibangun atas tiga macam komponen, yaitu; ketekunan, masalah dan tantangan. Komponen tersebut dapat diimplementasikan secara sistematik dengan berbagai komponen pembelajaran. Model pembelajaran creative problem solving berusaha mengembangkan pemikiran divergen, berusaha mencapai berbagai alternatif dalam memecahkan suatu masalah.

Berikut definisi dan pengertian model pembelajaran creative problem solving dari beberapa sumber buku: 

  • Menurut Shoimin (2014), creative problem solving adalah model pembelajaran yang pemusatannya pada pengajaran dan keterampilan dalam memecahkan masalah. Ketika dihadapkan dengan suatu pernyataan, siswa dapat melakukan keterampilan dalam memecahkan masalah untuk memilih dan mengembangkan tanggapannya. Tidak hanya dengan cara menghafal tanpa berpikir, keterampilan memecahkan masalah dapat memperluas proses berpikir. 
  • Menurut Baharudin (2010), creative problem solving adalah variasi dari pembelajaran dengan pemecahan masalah melalui teknik sistematik dalam mengorganisasikan gagasan kreatif untuk menyelesaikan suatu permasalahan.
  • Menurut Cahyono (2009), creative problem solving adalah suatu metode pembelajaran yang melakukan pemusatan pada pengajaran dan ketrampilan memecahkan masalah, yang diikuti dengan penguatan ketrampilan.

Karakteristik Model Pembelajaran Creative Problem Solving 

Menurut Imam (2010), model pembelajaran creative problem solving memiliki tiga karakteristik yang menjadi prosedur dalam proses pembelajarannya, yaitu sebagai berikut: 

  • Menemukan fakta, melibatkan penggambaran masalah, mengumpulkan, dan meneliti data dan informasi yang bersangkutan. 
  • Menentukan gagasan, berkaitan dengan memunculkan dan memodifikasi gagasan tentang strategi pemecahan masalah. 
  • Menemukan solusi, yaitu proses evaluasi sebagai puncak pemecahan masalah.

Menurut Menurut Suryosubroto (2009), karakteristik dari model pembelajaran creative problem solving adalah sebagai berikut: 

  • Melatih siswa untuk berpikir divergen dalam memecahkan masalah dengan berbagai cara, mampu memberikan berbagai alternatif pemecahan atas sebuah masalah dan kemampuan mengemukakan berbagai gagasan baru, dengan cara-cara baru yang jarang dilakukan oleh orang lain.
  • Peran pendidik lebih banyak menempatkan diri sebagai fasilitator, motivator dan dinamisator belajar bagi peserta didik.

Tujuan Metode Creative Problem Solving 

Menurut Shoimin (2014), melalui model pembelajaran creative problem solving siswa diharapkan mampu:

  • Menyatakan urutan langkah-langkah pemecahan masalah dalam creative problem solving. 
  • Menemukan kemungkinan-kemungkinan strategi pembelajaran.
  • Mengevaluasi dan menyeleksi kemungkinan-kemungkinan tersebut kaitannya dengan kriteria-kriteria yang ada. 
  • Memilih suatu pilihan solusi yang optimal. 
  • Mengembangkan suatu rencana dalam mengimplementasikan strategi pemecahan masalah. 
  • Mengartikulasikan bagaimana creative problem solving dapat digunakan dalam berbagai bidang/situasi.

Langkah-langkah Model Pembelajaran Creative Problem Solving 

Menurut Huda (2013), sintak atau tahapan proses dalam model pembelajaran Creative Problem Solving menurut model Osborn-Parnes dikenal dengan istilah OFPISA, yaitu Objective, Finding, Fact Finding, Idea Finding, Solution Finding, dan Acceptence Finding. Adapun penjelasannya adalah sebagai berikut:

a. Objective Finding 

Siswa dibagi ke dalam kelompok-kelompok. Siswa mendiskusikan situasi permasalahan yang diajukan guru dan membrainstroming sejumlah tujuan atau sasaran yang bisa digunakan untuk kerja kreatif mereka. Sepanjang proses ini siswa diharapkan bisa membuat suatu konsensus tentang sasaran yang hendak dicapai kelompoknya.

b. Fact Finding 

Siswa membrainstroming semua fakta yang mungkin berkaitan dengan sasaran tersebut. Guru mendaftar setiap perspektif yang dihasilkan oleh siswa. Guru memberi waktu kepada siswa untuk berefleksi tentang fakta-fakta apa saja yang menurut mereka paling relevan dengan sasaran dan solusi permasalahan.

c. Problem Finding 

Salah satu aspek terpenting dari kreativitas adalah mendefinisikan kembali perihal permasalahan agar siswa bisa lebih dekat dengan masalah sehingga memungkinkannya untuk menemukan solusi yang lebih jelas. Salah satu teknik yang bisa digunakan adalah membrainstroming beragam cara yang mungkin dilakukan untuk semakin memperjelas sebuah masalah.

d. Idea Finding 

Pada langkah ini, gagasan-gagasan siswa didaftar agar siswa bisa melihat kemungkinan menjadi solusi atas situasi permasalahan. Ini merupakan langkah brainstorming yang sangat penting. Setiap usaha siswa harus diapresiasi sedemikian rupa dengan penulisan setiap gagasan, tidak peduli seberapa relevan gagasan tersebut akan menjadi solusi. Setelah gagasan-gagasan terkumpul, cobalah meluangkan beberapa saat untuk menyortir mana gagasan yang potensial dan yang tidak potensial sebagai solusi. Tekniknya adalah evaluasi cepat atas gagasan-gagasan tersebut untuk menghasilkan hasil sortir gagasan yang sekiranya bisa menjadi pertimbangan solusi lebih lanjut.

e. Solution Finding 

Pada tahap ini, gagasan-gagasan yang memiliki potensi terbesar dievaluasi bersama. Salah satu caranya adalah dengan membrainstroming kriteria-kriteria yang dapat menentukan seperti apa solusi yang terbaik itu seharusnya. Kriteria ini dievaluasi hingga ia menghasilkan penilaian yang final atas gagasan yang pantas menjadi solusi atas situasi permasalahan.

f. Acceptance Finding 

Pada tahap ini, siswa mulai mempertimbangkan isu-isu nyata dengan cara berpikir yang sudah mulai berubah. Siswa diharapkan sudah memiliki cara baru untuk menyelesaikan berbagai masalah secara kreatif. Gagasan-gagasan mereka diharapkan sudah bisa digunakan tidak hanya untuk menyelesaikan masalah, tetapi juga untuk mencapai kesuksesan.

Kelebihan dan Kekurangan Model Pembelajaran Creative Problem Solving 

Setiap model pembelajaran pada umumnya memiliki kelebihan dan kekurangan masing-masing begitu juga dengan model pembelajaran creative problem solving. Menurut Istarani dan Ridwan (2014), kelebihan dan kekurangan creative problem solving adalah sebagai berikut:

a. Kelebihan 

Kelebihan atau keunggulan model pembelajaran creative problem solving yaitu:

  • Berpikir dan bertindak kreatif.
  • Dapat membuat pendidikan sekolah lebih baik relevan dengan kehidupan, khususnya dunia kerja. 
  • Memecahkan masalah yang dihadapi secara realistis. 
  • Merangsang perkembangan kemajuan berpikir siswa untuk menyelesaikan masalah yang dihadapi dengan tepat.
  • Melatih siswa untuk mendesain suatu penemuan. 
  • Mengidentifikasikan dan melakukan penyelidikan.
  • Menafsirkan dan mengevaluasi hasil pengamatan.
  • Memilih fakta aktual sebagai dasar dan landasan untuk membahas pembelajaran.
  • Pembelajaran ini melatih dan menumbuhkan orisinalitas ide, kreativitas kognitif tinggi, kritis, komunikasi-interaksi, sharing keterbukaan, dan sosialisasi.
  • Menumbuhkan rasa kebersamaan siswa melalui diskusi akhir dari pemecahan masalah.

b. Kekurangan 

Kekurangan atau kelemahan model pembelajaran creative problem solving yaitu:

  • Memerlukan waktu yang lebih banyak dibandingkan dengan metode pembelajaran yang lain. 
  • Beberapa pokok bahasan sangat sulit dalam menerapkan sebuah metode pembelajaran ini. Sehingga menyebabkan siswa sulit untuk melihat, mengamati, dan menyimpulkan kejadian atau konsep tersebut. 
  • Sulit mencari masalah yang benar-benar aktual dalam pembelajaran.
  • Adanya masalah yang tidak relevan dengan materi pembelajaran.
  • Menentukan suatu masalah yang tingkat kesulitannya sesuai dengan tingkat berpikir siswa memerlukan kemampuan dan keterampilan guru.
  • Mengubah kebiasaan siswa belajar merupakan kesulitan tersendiri bagi siswa untuk menerima informasi dari guru.

Langkah-Langkah Model Pembelajaran Creative Problem Solving (CPS)

Model pembelajaran creative problem solving.

Banyak ahli yang menjelaskan bentuk penerapan model pembelajaran (CPS). Osborn seorang ahli pendidikan yang pertama kali memperkenalkan struktur (CPS) sebagai metode untuk menyelesaikan masalah secara kreatif yang kemudian menjelaskan 6 langkah pada proses model pembelajaran (CPS) berdasarkan criteria OFPISA model Osborn-Parnes, yaitu :

  • Objective Finding, yaitu langkah peserta didik mendiskusikan situasi permasalahan yang diajukan guru dan membrainstorming sejumlah tujuan atau sasaran yang bisa digunakan untuk kerja kreatif peserta didik.
  • Fact Finding, yaitu langkah peserta didik membrainstorming semua fakta yang mungkin berkaitan dengan sasaran tersebut.
  • Problem Finding, yaitu langkah peserta didik membrainstorming beragam cara untuk semakin memperjelas sebuah masalah.
  • Idea Finding, yaitu langkah setiap usaha peserta didik harus diapresiasi sedemikian rupa dengan penulisan setiap gagasan, tidak perduli seberapa relevan gagasan tersebut akan menjadi solusi. Guru bertugas menyortir mana gagasan yang potensial dan yang tidak potensial sebagai solusi.
  • Solution Finding, yaitu teknik mengevaluasi bersama gagasan-gagasan yang memiliki potensi terbesar hingga menghasilkan penilaian yang final atas gagasan yang pantas menjadi solusi atas situasi permasalahan.
  • Acceptance Finding, yaitu teknik peserta didik mulai mempertimbangkan isu- isu nyata dengan cara berpikir yang sudah mulai berubah. Peserta didik diharapkan sudah memiliki cara baru untuk menyelesaikan berbagai masalah secara kreatif.

Jackson, Oliver, Shaw, & Wisdom (dalam Sari & Noer, 2017 :246) menyatakan bahwaada 4 tahapan dalam pendekatan CPS yaitu:

  • Question formulation (memformulasikan pertanyaan), dimana akan dikemukan berbagai pertanyaan yang mengerucut pada pertanyaan “bagaimana kita dapat menyelesaikan masalah?”;
  • Idea generation (mengembangkan ide), yang meliputi dua hal yaitu analogi dan teknik mengembangkan ide-ide yang diolah berdasarkan pertanyaan awal, kemudian ide-ide tersebut disusun menjadi urutan prioritas untuk menyelesaikan suatu masalah;
  • Evaluationand action planning (rencana aksi dan evaluasinya); dan
  • Action Planing (melaksanakan aksi).

Adapun proses dari model pembelajaran pemecahan masalah kreatif (creative problem solving), terdiri dari langkah-langkah sebagai berikut:

  • Klarifikasi Masalah Klarifikasi masalah meliputi pemberian penjelasan kepada siswa tentang masalah yang diajukan, agar siswa dapat memahami tentang penyelesaian seperti apa yang diharapkan. Klarifikasi masalah diperlukan karena penyelesaian terhadap suatu masalah sangat tergantung pada pemahaman terhadap masalah itu sendiri. Sekali masalah berhasil dirumuskan maka langkah berikutnya dapat dilalui dengan mudah.
  • Pengungkapan Pendapat Pada tahap ini siswa dibebaskan untuk mengungkapkan pendapat tentang berbagai macam solusi/penyelesaian masalah. Siswa berusaha untuk menemukan berbagai alternatif penyelesaian masalah. Untuk itu setiap siswa harus kreatif, berpikir secara divergen, dan memiliki daya temu yang tinggi.
  • Evaluasi dan Pemilihan Pada tahap evaluasi dan pemilihan ini, setiap kelompok mendiskusikan pendapat-pendapat atau solusi mana yang cocok untuk menyelesaikan masalah. Siswa meninjau kembali pendapatnya dengan memberikan penjelasan dari setiap pendapat yang diungkapkan, dengan demikian dapat dicoret strategi/cara/penyelesaian yang kurang relevan. Pada tahap ini siswa menggunakan pertimbangan-pertimbangan yang kritis, selektif, dengan berpikir secara konvergen. Siswa memilih alternatif terbaik yang digunakan sebagai solusi.
  • Implementasi Pada tahap ini siswa menentukan solusi mana yang dapat diambil untuk menyelesaikan masalah, kemudian menerapkannya sampai menemukan penyelesaian dari masalah tersebut.

Menghasilkan Uang dari snack video

Academia.edu no longer supports Internet Explorer.

To browse Academia.edu and the wider internet faster and more securely, please take a few seconds to  upgrade your browser .

Enter the email address you signed up with and we'll email you a reset link.

  • We're Hiring!
  • Help Center

paper cover thumbnail

Efektivitas Penerapan Model Pembelajaran Creative Problem Solving (CPS) Terhadap Peningkatan Kemampuan Pemecahan Masalah Matematik Mahasiswa

Profile image of Ratna Rustina

Suska Journal of Mathematics Education

Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui apakah model pembelajaran Creatif Problem Solving lebih efektif daripada model pembelajaran langsung dalam meningkatkan kemampuan pemecahan masalah matematik mahasiswa serta bagaimanakah kemampuan pemecahan masalah matematik mahasiswa pada pembelajaran Creative Problem Solving (CPS). Populasi dalam penelitian ini adalah seluruh mahasiswa Program Studi Pendidikan Matematika Angkatan 2016 dan peneliti mengambil 2 kelas untuk dijadikan sampel penelitian.Instrumen yang digunakan dalam penelitian ini meliputi soal tes kemampuan pemecahan masalah matematik. Analisis data menggunakan uji perbedaan dua rata-rata. Berdasarkan hasil penelitian dan analisis data dapat disimpulkan bahwa model pembelajaran Creative Problem Solving (CPS) lebih efektif daripada model pembelajaran langsung dalam meningkatkan kemampuan pemecahan masalah matematik mahasiswa, kemampuan pemecahan masalah matematik mahasiswa pada model pembelajaran Creative Problem Solving (CPS)...

Related Papers

JURING (Journal for Research in Mathematics Learning)

ABSTRACT. Tihs article is aimed to describe the role of PBL toward mathematics problem solving skills and Self Regulated learning. The design of this research is qualitative descriptive, the subject of this reasearch is teachers and students class seven of MTs PP. Ansharullah. The data is collected by doing inteview with teacher and students of MTs PP. Ansharullah, observation, literature study, and analized descriptively.ABSTRAK. Artikel ini bertujuan untuk mendeskripsikan peranan model Problem Based Learning (PBL) terhadap kemampuan pemecahan masalah matematis dan kemandirian belajar siswa. Jenis penelitian yang digunakan adalah penelitian deskiptif kuantitatif yang dilakukan pada siswa dan guru MTs. PP. Ansharullah kelas VII. Teknik pengumpulan data yang digunakan dalam artikel ini melalui wawancara dengan siswa dan guru, observasi, dan studi literatur yang dianalisis secara deskriptif.

model pembelajaran creative problem solving pdf

Jurnal Gantang

Erdawati Nurdin

Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui ada atau tidaknya perbedaan kemampuan berpikir kritis siswa yang mengikuti pembelajaran model Creative Problem Solving (CPS) jika ditinjau dari kemampuan awal matematis siswa. Desain yang digunakan pada penelitian kuasi eksperimen adalah the non-equivalent posttest only control group design. Populasi pada penelitian ini adalah siswa SMA N Plus Pekanbaru. Sampel pada penelitian ini dipilih secara purposif. Sampel dalam penelitian ini adalah kelas XI MS 1 sebagai kelompok eksperimen dan kelas XI MS 2 sebagai kelompok kontrol. Berdasarkan analisis data menggunakan uji anova dua arah diperoleh kesimpulan bahwa: (1) Terdapat perbedaan kemampuan berpikir kritis siswa yang belajar menggunakan pembelajaran model Creative Problem Solving (CPS) dengan siswa yang belajar menggunakan pembelajaran konvensional, (2) Terdapat perbedaan kemampuan berpikir kritis siswa yang mengikuti pembelajaran model Creative Problem Solving (CPS) dengan siswa yang mengiku...

Husni Tamrin Hrp

Abstrak. Penelitian ini didasarkan pada permasalahan rendahnya kemandirian belajar matematis siswa. Untuk mengatasi hal tersebut, dilakukan penelitian dengan menggunakan pendekatan pembelajaran Visual Thinking disertai aktivitas Problem based learning. Kemandirian belajar merupakan aspek yang sangat penting dalam pembelajaran matematika. Hal ini didasarkan bahwa indikator kemandirian belajar seperti 1) Inisiatif Belajar, 2). Mendiagnosa Kebutuhan Belajar, 3) Menetapkan Target dan Tujuan Belajar, 4) Memonitor, Mengatur dan Mengontrol, 5) Memandang Kesulitan Sebagai Tantangan, 6) Memanfaatkan dan Mencari Sumber yang relevan, 7) Memilih dan Menerapkan Strategi Belajar, 8) Mengevaluasi Proses dan Hasil Belajar dan 9) Self Eficacy (konsep diri) sesuai dan mendukung dengan penerapan Visual Thinking disertai Problem Based Learning Keyword: Visual Thinking, Problem Based Learning, Kemandirian Belajar I. Pendahuluan Sikap mandiri seseorang tidak terbentuk dengan cara yang mendadak, namun melalui proses sejak masa anak-anak. Dalam perilaku mandiri antara tiap individu tidak sama, kondisi ini dipengaruhi oleh banyak hal. Hal yang mempengaruhi atau faktor penyebab sikap mandiri seseorang itu dibagi menjadi dua, yaitu faktor dari dalam individu dan faktor dari luar individu. Menurut Hasan Basri (1994: 54) kemandirian belajar siswa dipengaruhi oleh beberapa faktor yaitu faktor yang terdapat di dalam dirinya sendiri (endogen) dan faktor – faktork yang terdapat di luar dirinya (eksogen). Independence (mandiri) secara umum menunjuk pada kemampuan individu untuk menjalankan atau melakukan sendiri aktivitas hidup terlepas dari pengaruh kontrol orang lain (Steinberg dalam Sutanto, 2006). Kemandirian merupakan salah satu aspek kepribadian yang sangat penting bagi individu. Seseorang dalam menjalani kehidupan ini tidak pernah lepas dari cobaan dan tantangan. Individu yang memiliki kemandirian tinggi relatif mampu menghadapi segala permasalahan karena individu yang mandiri tidak tergantung pada orang lain, selalu berusaha menghadapi dan memecahkan masalah yang ada. Kemandirian belajar siswa, akan menuntut mereka untuk aktif baik sebelum pelajaran berlangsung dan sesudah proses belajar. Murid yang mandiri akan mempersiapkan materi yang akan dipelajari. Sesudah proses belajar mengajar selesai, murid akan belajar kembali mengenai materi yang sudah disampaikan sebelumnya dengan cara membaca atau berdiskusi. Sehingga murid yang menerapkan belajar mandiri akan mendapat prestasi lebih baik jika dibandingkan dengan murid yang tidak menerapkan prinsip mandiri. Untuk pengembangan kemandirian belajar siswa diperlukan dukungan dari seluruh pihak termasuk guru, orang tua, masyarakat penyelenggara pendidikan, maupun lingkungan sosial di sekitar tempat tinggal siswa itu sendiri. Semua hal itu tidak akan

MAJAMATH: Jurnal Matematika dan Pendidikan Matematika

Nailul Authary

Komunikasi yang efektif sangat penting dalam pembejaran. Salah satu keuntungan komunikasi matematika yang efektif antara guru dan peserta didik serta antara peserta didik dan peserta didik adalah tercapainya tujuan pembelajaran. Pada sisi berbeda, pembelajaran tidak akan maksimal jika hanya dilaksanakan di kelas saja dengan waktu yang sangat terbatas. Kemampuan self regulated learning menjadi kemampuan lain yang dibutuhkan oleh seorang peserta didik. Untuk itu strategi preview, question, read, reflect, recite dan review (PQ4R) dapat digunakan untuk meningkatkan kemampuan tersebut. Keadaan ini yang menjadi titik incar dalam artikel ini. Hasil kajian diperoleh PQ4R berperan penting dalam belajar matematika. Sehingga terjadi komunikasi yang efektif antara siswa dan guru dengan saling berinteraksi dan berkomunikasi mengenai materi matematika yang sedang dipelajari.

Paunk Hernawan

Referensi DDR

JMIE (Journal of Madrasah Ibtidaiyah Education)

Mimi Hariyani

Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui peningkatan dan pencapaian kemampuan penalaran matematis mahasiswa Pendidikan Guru Madrasah Ibtidaiyah yang memperoleh pembelajaran dengan concept attainment model dan sikap mahasiswa terhadap pembelajaran dengan concept attainment model.Penelitian dilakukan dengan tahapan-tahapan yang berlaku dalam pembelajaran berbasis lesson study. Pelaksanaannya berlangsung 3 siklus disesuaikan dengan alokasi waktu dan pokok bahasan yang dipilih. Tiap siklus terdiri dari plan, do dan see. Lokasi penelitian di Program Studi PGMI Fakultas Tarbiyah dan Keguruan UIN Suska Riau, waktu pelaksanaan bulan April-Juni 2017. Populasi penelitian adalah mahasiswa program studi PGMI yang mengambil mata kuliah Sistem Bilangan pada semester genap Tahun Ajaran 2016/2017 berjumlah 101 orang, sampel diambil dari lokal B yang berjumlah 35 orang. Pegumpulan data dengan teknik tes, observasi, dan angket. Instrumen meliputi: tes kemampuan penalaran matematis, lembar observasi,...

Moelyadie Caem

The purpose of this study are: (i) To determine whether the ability to write mathematics students who are taught to the think-talk-write models better than students taught with conventional learning, (ii) To determine whether the learning model of think-talk-write the student is able to deliver achieve completeness minmal classical in mathematical writing skills, (iii) To determine whether there is influence the ability to write mathematics on mathematics learning achievement. The population in this study is a class XI IPA student of SMAN Banyumas semester academic year 2011/2012 consisting of 4 classes. This research sampled are XI IPA 1 as experiments class and XI IPA 4 as control class, sampling with random sampling technique. Experimental class were learning think-talk-write, while the control classes were given conventional learning. The results showed that the average writing skills math class experiment is better than the control class, thoroughness classical experimental class greater than or equal to a minimum standard classical thoroughness, ability to write mathematical influence on mathematics learning achievement. The conclusions are obtained based on the results of research are: (i) The ability to write mathematics students who are taught to think of learning models-talk-write better than students taught with conventional learning, (ii) The ability to write mathematics students who are taught to think of learning-talk models-write to achieve the minimal classical completeness, (iii) The ability to write mathematics influence mathematics learning achievement. Pendahuluan Belajar matematika berbeda dengan belajar bidang studi lain yang bisa dipelajari dengan hanya menghafal. Dalam mempelajari matematika selain dibutuhkan hafalan juga diperlukan pemahaman, ketelitian, dan latihan-latihan secara teratur. Matematika diajarkan bukan hanya untuk mengetahui dan memahami apa yang terkandung dalam matematika itu sendiri. Mempelajari matematika adalah berkaitan dengan mempelajari ide-ide atau konsep-konsep yang bersifat abstrak. Untuk mempelajarinya digunakan simbol-simbol agar ide-ide atau konsep-konsep tersebut dapat dikomunikasikan. Salah satu materi matematika yang banyak digunakan pada disiplin ilmu yang lain adalah turunan. Turunan merupakan materi baru yang di dapat siswa di kelas XI. Materi turunan belum pernah diajarkan pada jenjang pendidikan sebelumnya. Materi ini diajarkan pada kelas XI di semester genap. Berdasarkan hasil wawancara dengan guru mata pelajaran matematika kelas XI IPA dan studi pendahuluan di SMA Negeri Banyumas, menunjukkan bahwa tingkat ketuntasan belajar untuk materi turunan dari tahun ke tahun tidak lebih dari 50%. Materi turunan dirasa sebagai materi yang paling susah bagi sebagian besar siswa kelas XI IPA di SMAN Banyumas. Banyak siswa yang mengerjakan soal matematika tidak runtut langkahnya dan penjelasannya tidak jelas, ini menunjukkan bahwa kemampuan menulis matematika secara umum masih rendah. Rendahnya kemampuan menulis matematika diduga menjadi penyebab rendahnya tingkat ketuntasan belajar untuk materi turunan dari tahun ke tahun.

Nerru Pranuta , Dwi wulandari

Penelitian ini dilatarbelakangi oleh adanya kesulitan siswa di dalam memecahkan permasalahan yang muncul terkait pembelajaran matematika. Hal ini disebabkan karena sebagian besar dari siswa masih belum mampu menghubungkan pelajaran yang sudah mereka pelajari dengan kebermanfaatan di masyarakat serta bagaimana mengaplikasikan hal tersebut di lingkungan tempat tinggalnya. Dalam pembelajaran matematika, hal ini lebih dikenal dengan matematika aplikatif. Salah satu penyebab permasalahan dalam matematika aplikatif ini adalah siswa masih mengalami kesulitan dengan pembelajaran yang bersifat abstrak, sehingga mereka membutuhkan pendekatan yang mengarahkan konsep kepada sesuatu yang lebih konkrit dengan harapan dapat diaplikasikan dalam kehidupan sehari-hari. Pendekatan kontekstual atau yang lebih dikenal dengan Contextual Teaching and Learning (CTL)merupakan konsep belajar yang mengaitkan materi dengan situasi dunia nyata yang memungkinkan siswa untuk dapat memperluas dan menerapkan pengetahuan mereka dalam kehidupan baik di sekolah maupun di luar sekolah. Tujuan dalam penelitian ini yaitu untuk melihat besarnya peningkatan hasil belajar siswa terkait problem solving skill dengan menggunakan pendekatan CTL. Jenis penelitian ini adalah kuasi eksperimen dengan menggunakan Non equivalent control group design.Instrumen yang akan digunakan di dalam penelitian ini berupa tes dan angket. Sampel dalam penelitian ini adalah Siswa kelas IV di SDN PB Kelapa Dua 1 Tangerang dengan pengambilan sampel menggunakan teknik purposive sampling. Hasil yang didapat pada penelitian ini yaitu adanya peningkatan hasil belajar siswa terkait problem solving skill dengan menggunakan pendekatan CTL. Selain itu, adanya respons positif dari siswa terhadap pembelajaran matematika dengan pendekatan CTL.

IKIP Siliwangi Bandung

SAMSUL PAHMI

Tesis ini bertujuan untuk mengetahui informasi dan menelaah pencapaian dan peningkatan kemampuan penalaran dan pemecahan masalah matematik dengan menggunakan metode penemuan; minat belajar siswa yang menggunakan metode penemuan; asosiasi antara kemampuan penalaran matemati, pemecahan masalah matematik dan minat belajar siswa; implementasi metode penemuan dalam pembelajaran; dan kesulitan-kesulitan yang dialami dalam pemecahan soal kemampuan penalaran dan pemecahan masalah matematik. Penelitian ini merupakan jenis kuasi eksperimen dengan sampel penelitian di ambil dari dua kelas pada SMK Hassina Sukabumi, kelas eksperimen menggunakan metode penemuan dan kelas kontrol menggunakan metode biasa. Dari hasil penelitian ditemukan bahwa kelas yang menggunakan metode penemuan lebih baik dari pada yang menggunakan metode biasa. Hal tersebut disimpulkan karena berdasarkan hasil observasi dan tes, peneliti menemukan: 1) Kemampuan penalaran dan pemecahan masalah matematik kelas eksperimen lebih baik daripada kelas kontrol, 2) Sikap siswa pada pembelajaran menggunakan metode penemuan cukup positif, 3) Selama kegiatan belajar menggunakan metode penemuan, siswa aktif, dan asik berdiskusi dalam menyelesaikan permasalahan yang diberikan. Dari penelitian ini juga ditemukan terdapat asosiasi yang sangat kuat antara kemampuan penalaran, pemecahan masalah dan minat belajar siswa. Dalam implementasi metode penemuan dalam pembelajaran bisa dikatakan berjalan cukup baik dikarenakan ketersediaan bahan dan media pembelajaran yang memadai.

dwi fadillah putri

RELATED PAPERS

rika krismayanti

Azrin Kurniawan

elmuna maulidina

Fitrah Math

Jurnal Derivat: Jurnal Matematika dan Pendidikan Matematika

sri satriani

Rahmah Johar

Al-Khwarizmi : Jurnal Pendidikan Matematika dan Ilmu Pengetahuan Alam

Retno Marsitin

Ririn Widiyasari

Hayatun Nufus

destri _mega

Setio Loe'z

cita dwi rosita

Mosharafa: Jurnal Pendidikan Matematika

Rostina Sundayana

Jurnal Tadris Matematika

Nanang Nanang

TEOREMA : Teori dan Riset Matematika

siti eftafiyana

JAP - Jadikan Aq Pacar MU

Jalan baru Prum45

Fadillah Alw

oppa O J O L jamanow

KALAMATIKA Jurnal Pendidikan Matematika

angghii aanggh

We don't care

Mitra K U M A H A Dama

(U drive Me) Crazy

JURNAL RISET PEMBELAJARAN MATEMATIKA SEKOLAH

Ellis Salsabila

P2M STKIP Siliwangi

tina rosyana

JNPM (Jurnal Nasional Pendidikan Matematika)

Ratna Sariningsih

Alifa Muhandis Sholiha Afif

farid abdullah

Pendidikan Matematika

siti romlah

Mathline : Jurnal Matematika dan Pendidikan Matematika

Hamidah Lukman

Jurnal Edukasi Matematika dan Sains

Nonik Indrawatiningsih

Indiktika : Jurnal Inovasi Pendidikan Matematika

aty nurdiana

Heri Risdianto

JPMI (Jurnal Pembelajaran Matematika Inovatif)

sigit mulqiyono

danu purnomo

  •   We're Hiring!
  •   Help Center
  • Find new research papers in:
  • Health Sciences
  • Earth Sciences
  • Cognitive Science
  • Mathematics
  • Computer Science
  • Academia ©2024

VIDEO

  1. PPL SIKLUS 1: Model Pembelajaran Problem Based Learning oleh Rosyaidah, S. Pd

  2. Sisi Cermat Episode 17 : Problem Solving dalam Pembelajaran Matematika

  3. Topik 3 Ruang Kolaborasi Pembelajaran Berdiferensiasi

  4. METODE PEMBELAJARAN PROBLEM SOLVING

  5. Model Pembelajaran Problem Solving

  6. Pembelajaran Penjumlahan dan Pengurangan Bilangan dengan Model Pembelajaran Problem Solving Kelas 3

COMMENTS

  1. PDF Model Pembelajaran Creative Problem Solving (Cps) Untuk Meningkatkan

    SHELLA MALISA, IRIANI BAKTI, & RILIA IRIANI │MODEL PEMBELAJARAN CREATIVE.. 1 MODEL PEMBELAJARAN CREATIVE PROBLEM SOLVING (CPS) UNTUK MENINGKATKAN HASIL BELAJAR DAN KEMAMPUAN BERPIKIR KREATIF SISWA Shella Malisa*, Iriani Bakti, dan Rilia Iriani Prodi Pendidikan Kimia FKIP Universitas Lambung Mangkurat Jalan Brigjend. H.

  2. (Pdf) Model Pembelajaran Creative Problem Solving (Cps) Untuk

    Keywords: creative thinking ability, academic achievement, creative problem solving Abstrak. Kemampuan berpikir kreatif merupakan salah satu dari keterampilan abad 21 yang harus dimiliki siswa.

  3. (PDF) Model Pembelajaran Creative Problem Solving pada Kemampuan

    Pembelajaran dengan model Creative Problem Solving ini memberikan kesempatan kepada guru untuk memotivasi, mendorong dan mengoptimalkan perkembangan pengetahuan satu sama lain siswa, dan untuk ...

  4. (PDF) Implementasi Model Pembelajaran Creative Problem Solving (CPS

    Implementasi Model Pembelajaran Creative Problem Solving (CPS) Untuk Meningkatkan Kemampuan Pemecahan Masalah Mahasiswa March 2019 Jurnal Derivat Jurnal Matematika dan Pendidikan Matematika 5(1):69-81

  5. PDF Pengaruh Model Pembelajaran Creative Problem Solving (Cps) Dan Problem

    pengaruh model pembelajaran creative problem solving (cps) dan problem based learning (pbl) terhadap kemampuan berpikir kreatif siswa dengan minat belajar sebagai variabel moderator universitas pendidikan indonesia | repository.upi.edu | perpustakaan.upi.edu pengaruh model pembelajaran creative problem solving dan problem based learning terhadap

  6. PDF PENGARUH MODEL PEMBELAJARAN CREATIVE PROBLEM SOLVING TERHADAP ...

    masalah. Dalam penerapan model pembelajaran creative problem solving, peran pendidik lebih banyak menempatkan diri sebagai fasilitator, motivator, dan dinamisator belajar, baik secara individu maupun kelompok. Menurut Huda (2014:298) sintak proses model pembelajaran creative problem solving adalah (1).

  7. Model Pembelajaran Creative Problem Solving Dan Kemampuan Berpikir

    Model Pembelajaran Creative Problem Solving (CPS) Untuk hidup dalam abad ke-21, kreativitas akan sangat diperlukan manusia agar ia dapat bersaing secara global. Bahkan, Covey (dalam Munandar 1999) dalam bukunya The Seven Habits of Highly Effective People menyatakan bahwa kualitas daya cipta orisinil ...

  8. PDF Penerapan Model Creative Problem Solving Untuk Meningkatkan Kemampuan

    pembelajaran dengan model Creative Problem Solving 2) Perbedaan peningkatan kemampuan berpikir kreatif siswa yang signifikan antara yang memperoleh Creative Problem Solving dan pembelajaran konvensional. Model Creative Problem Solving merupakan model pembelajaran yang menekankan pemecahan masalah dengan cara-cara kreatif. Kemampuan

  9. [PDF] Model Pembelajaran Creative Problem Solving Dan Kemampuan

    Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui apakah model creative problem solving efektif meningkatkan hasil belajar siswa. Penelitian ini bertempat di SMP Al- Hidayah Medan. Subjek Penelitian ini adalah siswa SMP Al-Hidayah Medan. Prosedur penelitian terdiri dari empat tahapan, yaitu : perencanaan, tindakan, pengamatan, dan refleksi. Keberhasilan penerapan model creative problem solving ...

  10. PDF PENERAPAN MODEL PEMBELAJARAN CREATIVE PROBLEM SOLVING (CPS ...

    Kata kunci : Model Pembelajaran Creative Problem Solving (CPS), hasil Belajar, keaktifan belajar. BAB I PENDAHULUAN 1.1 Latar Belakang Pembelajaran adalah suatu sistem yang bertujuan untuk membantu proses belajara peserta didik, yang berisi serangkaian peristiwa yang dirancang, disusun sedemikian rupa untuk mempengaruhi dan mendukung terjadinya ...

  11. Pengaruh Model Pembelajaran Creative Problem Solving Terhadap Kemampuan

    pengaruh pembelajaran creative problem solving terhadap kemampuan pemecahan masalah matematika pada siswa kelas X SMAN 1 Rantau Utara. Kata Kunci: Creative problem solving; kemampuan pemecahan masalah; model pembelajaran Abstract The ability of a student to solve eye problems is very low because in solving math problems, because the

  12. Model Pembelajaran Creative Problem Solving (CPS)

    Menurut Imam (2010), model pembelajaran creative problem solving memiliki tiga karakteristik yang menjadi prosedur dalam proses pembelajarannya, yaitu sebagai berikut: Menemukan fakta, melibatkan penggambaran masalah, mengumpulkan, dan meneliti data dan informasi yang bersangkutan. Menentukan gagasan, berkaitan dengan memunculkan dan ...

  13. PDF Analisis Model Pembelajaran Creative Problem Solving Untuk Meningkatkan

    Penelitian ini bertujuan mengetahui hasil Analisis Model Pembelajaran Creative Problem Solving untuk Meningkatkan Berpikir Kritis pada Siswa E. Manfaat Penelitian Adapun manfaat yang diharap dari adanya penelitian ini ialah: 1. Bagi Guru sebagai referensi dan informasi di bidang ilmu pendidikan akuntansi sehingga dapat dijadikan rujukan dalam ...

  14. (PDF) Meta Analisis: Pengaruh Model Pembelajaran Creative Problem

    Download Free PDF. Download Free PDF. Meta Analisis: Pengaruh Model Pembelajaran Creative Problem Solving (CPS) Terhadap Kemampuan Berpikir Kreatif Matematis ... M. W., & Suyitno, S. (2020). Model Pembelajaran Creative Problem Solving Dan Pengaruhnya Terhadap Hasil | 2211 AKSIOMA: Jurnal Program Studi Pendidikan Matematika Volume 12, No. 2 ...

  15. (Pdf) Model Pembelajaran Creative Problem Solving Dan Kemampuan

    Kata kunci : kemampuan berpikir kreatif, creative problem solving. 1. PENDAHULUAN. Matematika dengan berbagai peranan. menjadikannya sebagai ilmu yang sangat. penting, dan salah satu peranan ...

  16. (PDF) Pengaruh Model Pembelajaran Creative Problem Solving (CPS

    p-ISSN: 2503-4723 e-ISSN: 2541-2612 PENGARUH MODEL PEMBELAJARAN CREATIVE PROBLEM SOLVING (cps) TERHADAP KEMAMPUAN BERPIKIR KREATIF MATEMATIS SISWA Ernani Br Ginting1, Sigid Edy Purwanto2, Ayu Faradillah3 1 Universitas Muhammadiyah Prof. DR. HAMKA [email protected] 2 Universitas Muhammadiyah Prof. DR. HAMKA [email protected] 3 Universitas ...

  17. PDF Kemampuan Berpikir Kreatif Matematis Ditinjau Dari Minat Belajar Dan Aq

    Belajar dan AQ Siswa melalui Model Pembelajaran Creative Problem Solving. Skripsi, Jurusan Matematika Fakultas Matematika dan Ilmu Pengetahuan Alam Universitas Negeri Semarang. Pembimbing Drs. Arief agoestanto, M.Si. Kata Kunci: Kemampuan Berpikir Kreatif Matematis, Minat Belajar, Adversity Quotient, dan pembelajaran Creative Problem Solving.

  18. (PDF) Pengaruh Model Pembelajaran Creative Problem Solving Terhadap

    Keywords: Creative Problem Solving, Problem Solving Skills, Cognitive learning outcomes Sejarah Artikel Diterima: April 2017 Direvisi: Mei 2017 Dipublikasi: Juni 2017 Abstrak Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui pengaruh penggunaan model pembelajaran creative problem solving terhadap keterampilan pemecahan masalah dan hasil belajar ...

  19. (PDF) Penerapan Model Pembelajaran Creative Problem Solving untuk

    "Penerapan Model Pembelajaran Creative Problem Solving untuk Meningkatkan Keaktifan Siswa dalam Pembelajaran PKn" Jurnal Pendidikan Guru Sekolah Dasar. Diakses 28 Mei 2019 Metode Penelitian ...

  20. Langkah-Langkah Model Pembelajaran Creative Problem Solving (CPS

    Banyak ahli yang menjelaskan bentuk penerapan model pembelajaran (CPS). Osborn seorang ahli pendidikan yang pertama kali memperkenalkan struktur (CPS) sebagai metode untuk menyelesaikan masalah secara kreatif yang kemudian menjelaskan 6 langkah pada proses model pembelajaran (CPS) berdasarkan criteria OFPISA model Osborn-Parnes, yaitu :

  21. (PDF) Efektivitas Penerapan Model Pembelajaran Creative Problem Solving

    Model pembelajaran Creative Problem Solving (CPS) merupakan suatu model pembelajaran yang menekankan pada kemampuan pemecahan masalah secara kreatif. Dalam model pembelajaran ini, mahasiswa dapat melakukan keterampilan pemecahan masalah untuk memilih dan mengembangkan tanggapannya, karena dalam pemecahan masalah diperlukan proses berpikir bukan ...

  22. [Pdf] Meta-analysis of Problem Based Learning Models on Physics Problem

    The ability to solve these problems can be built and improved through the use of the Problem Based-Learning (PBL) learning model. This research aims to analyze the effect of using the Problem Based Learning model on students' Physics problem solving abilities. The method used in this research is meta-analysis. Meta-analysis is carried out by summarizing previously existing research data.

  23. (PDF) Pengaruh Model Pembelajaran Creative Problem Solving (CPS

    Pengaruh Model Pembelajaran Creative Problem Solving (CPS) Berbantuan Mind Mapping Terhadap Hasil Belajar IPA Kelas VIII SMP Negeri 3 Belang Pada Materi Sistem Pencernaan Pada Manusia

  24. (PDF) TEKNIK CREATIVE PROBLEM SOLVING

    Buku Creative Problem Solving, berisi tentang bab-bab yang berhubungan dengan pemecahan masalah yang dialami konseli. Secara umum dalam buku ini menguraikan tentang pengertian, prinsif ...